Sabtu, 14 Agustus 2021

Supervisi Pertama; Menegangkan tapi Bermakna


Pak Ahmad selaku wakasek kurikulum mendatangi meja tempat aku duduk, lalu ia mengambil format instrumen supervisi dari tanganku, seraya berkata, "Pak Anhar siap disupervisi. Ya.!?" 


Apa? Aku pun merasa kaget. "Saya kan belum siap administrasinya. Pak." Saya menimpali. 

"Ndak apa-apa Pak Anhar. Pengawas hanya supervisi praktik mengajar saja. Mereka hanya butuh foto Pak Anhar yang sedang mengajar buat laporannya saja. "  

"Ya sudahlah" Sahutku lirih. Sejujurnya aku belum siap. Akan tetapi, hati kecilku berbisik, 'kalau bukan sekarang, ya kapan lagi aku bisa menyiapkan mental untuk disupervisi? Toh juga ini sebagai pembelajaran berharga untuk peningkatan kemampuan mengajarku kedepannya'. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk belajar. Aku pun menguatkan tekad. 

"Assalamu'alaikum." Ucapku sembari berjalan masuk ke dalam kelas XII MIPA 4.

"Wa'alakumsalam". Jawab sebagian siswa yang mendengarkan ucapan salamku. 

Seperti biasanya, di kelas ini adalah siswa yang rata-rata memiliki sikap cuek terhadap guru dan kegiatan pembelajaran. Sebagai seorang guru saya merasa perlu meningkatkan mental dan karakter untuk mengatasi masalah seperti ini. 

Beberapa saat kemudian, masuklah seorang ibu pengawas yang perawakannya terlihat cukup tua. Pengawas tersebut pun langsung menginstruksikan kepada saya untuk memulai proses pembelajaran. 

Di tengah-tengah pembelajaran siswa membuat keributan. Mereka berbicara sendiri tak kala aku menerangkan sebuah materi pembelajaran, hal tersebut tak pelak menjadi biang keributan dalam kelas. Aku pun memperingatkan siswa agar segera diam. Siswa pun diam, akan tetapi itu hanya sementara. Keributan dalam kelas pun tak terelakan.  Susana kelas sudah berubah menjadi pasar sembako. 

Peristiwa tersebut membuat aku malu. 
Kenapa siswa ini kok tidak bisa menghargai aku di depan pengawas? Ya ampun, mampuslah aku. 

"Anak-anak tolong perhatiannya ke Pak Guru dulu ya." Semua siswa kembali memerhatikanku. 

"Anak-anak. Yang hadir di tengah-tengah kalian itu adalah seorang pengawas dari kantor Dinas Pendidikan. Jadi, tolong dihargai ya." Terpaksa aku menggunakan kata-kata sebagai senjata terakhirku untuk menenangkan mereka. 

"Saya tidak perlu dihargai." Pengawas tersebut menimpali. "Tapi kalian seharusnya menghargai diri kalian sendiri." Lanjutnya. 

Keadaan semakin yang semakin darurat membuat pengawas ikut turun tangan. Dan Alhamdulillah susana menjadi hening sampai akhir pembelajaran. 

Sehabis mengajar, aku pergi menemui seorang pengawas yang telah mengsupervisi saya dalam kelas tadi, untuk mendengarkan hasil evaluasinya. 

"Pak Anhar, kalo boleh tahu ngajarnya tadi pakai metode apa, ya?" Ujar pengawas. Melihat aku yang grogi karena tidak bisa jawab pengawas pun melanjutkan bicara. "Tadi saya lihat Pak Anhar ngajar dengan metode ceramah. Hal inilah yang membuat siswa tidak bisa dikendalikan." Menurut pengawas menggunakan metode ceramah boleh-boleh saja asal digabungkan dengan teknik tertentu agar kegiatan pembelajaran tidak monoton. 

"Bisa juga menggunakan teknik bertanya. Teknik bertanya Itu bagus. Misalnya ketika ada siswa yang bikin gaduh di dalam kelas, Pak Anhar bisa menanyakan kembali kepada siswa yang nakal tentang materi pelajaran yang telah disampakkan. Dengan cara itu membuat yang suka bikin ribut tidak berani membuat onar lagi." Lanjut pengawas. 

"Iya bu, saya paham kekurangan saya." Ujarku menanggapi pernyataan pengawas tentang caraku mengajar. Sebab, aku merasa diri memang memiliki banyak kekurangan dalam hal mengajar. 

"Tapi Pak Anhar sudah cukup bagus kok tadi, terutama dalam penguasaan materi." Pengawas itu menimpali. Kemudian, pengawas tersebut memberi motivasi kepada agar belajar lagi tentang metode-metode pembelajaran yang lain. 

Pada supervisi yang pertama dalam hidupku ini aku merasa sangat beruntung. Sebab, aku disupervisi oleh seorang pengawas yang tidak suka mengjudge serta bersikap sangat baik sekali. 

Dari pengalaman ini aku simpulkan bahwa disupervisi oleh pengawas seharusnya bukanlah menjadi momok yang menakutkan melainkan sebagai momen di mana kita bisa mengetahui kekurangan diri kita yang harus kita dilengkapi. Selain itu, mental kita akan semakin kuat ketika kita terbiasa kekurangan kita dinilai oleh orang lain. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga

PPG: Perjuangan Panjang menjadi Guru yang Sejati

Populer