Jumat, 13 Agustus 2021

GURU; Garis Kehidupan yang Harus Dihidupkan

Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, terutama bagi guru honorer daerah seperti saya. 

Saya adalah seorang guru honorer daerah provinsi Nusa Tenggara Barat. Di awal-awal saya mendaftarkan diri sebagai guru di sebuah sekolah, saya hanya seorang Guru Tidak Tetap. Guru Tidak Tetap merupakan jabatan yang diberikan oleh kepala sekolah kepada seorang calon guru melalui surat keputusan yang dikeluarkannya. 
Kini. Jabatan saya telah naik satu tingkat dari sebelumnya menjabat sebagai Guru Tidak Tetap menjadi Guru Honorer Daerah Tingkat I. Berbeda dengan guru tidak tetap, guru honorer daerah tingkat satu merupakan guru yang diangkat oleh pemerintah provinsi. Saya mendapatkan jabatan tersebut setelah melalui tes Uji Kompetensi Guru Pada Tahun 2019 lalu. Kemudian, harapan saya semoga dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) lulus 100%. Amin. 

Saya harus menjadi seorang guru hebat. Itu adalah janji yang telah saya sematkan di dinding hati sejak awal bulan Juli tahun 2021. Padahal saya mengajar telah berjalan selama 4 tahun. Sebab, saya belajar tentang cinta akan profesi baru saat ini. 

Cinta kepada profesi adalah menu wajib para pengais rejeki di mana pun berada. Mereka harus melakukan hal seromantis itu terhadap profesi mereka jika ingin berhasil dan dilimpahkan keberkahan. Jangan heran jika banyak cerita bertebaran tentang seorang anak miskin, yatim piatu, dan dari kasta rendah mampu membangun gedung tinggi dan mengubah dunia. Itu karena mereka sangat mencintai profesi mereka. 

Secara finansial, sebagai seorang guru honorer, kesulitan adalah hal yang menjadi makanan sehari-hari saya. Ban sepeda motor kempes, mesin sepeda motor mogok, biaya perbaikan motor yang mogok tersebut sebesar gaji saya satu bulan. Sedangkan uang belanja kebutuhan pokok sehari-hari mengandalkan gaji tersebut.

Secara professionalitas, saya merasa diri ini masih kurang mahir dalam mengajar. Tapi dengan keyakinan yang kuat, saya yakin, seiring berjalannya waktu kemampuan mengajar saya akan terus meningkat. 

Walaupun saya merasa bahwa menjadi seorang guru itu penuh tantangan, saya tetap menikmati rutinitas pekerjaan ini. Menikmati proses adalah tanda keikhlasan, keikhlasan menandakan cinta. Dan cinta terhadap pekerjaan itu perlu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga

PPG: Perjuangan Panjang menjadi Guru yang Sejati

Populer